agen sabung ayam - judi sabung ayam - sabung ayam online

Ganasnya Ayam Bangkok Aduan Tolaki Sulawesi

Ganasnya Ayam Bangkok Aduan Tolaki Sulawesi - Suku Tolaki ialah etnis paling besar yang ada di propinsi Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki adalah etnis yang diam di jazirah tenggara pulau Sulawesi. Suku Tolaki adalah suku asli wilayah Kota Kendari serta Kabupaten Kolaka.[1] Suku Tolaki menyebar di 7 kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Tenggara yang mencakup Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara serta Kolaka Timur.

Warga Tolaki semenjak jaman prasejarah sudah mempunyai jejak peradaban, ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan arkeologi di sejumlah gua atau kumapo di Konawe sisi utara atau beberapa gua yang berada di wilayah ini. Tempat situs gua-gua di wilayah ini biasanya terdapat di Konawe sisi Utara seperti Asera, Lasolo, Wiwirano, Langgikima, Lamonae, salah satunya gua Tanggalasi, gua Tengkorak I, gua Tengkorak II, gua Anawai Ngguluri, gua Wawosabano, gua Tenggere serta gua Kelelawar dan ada banyak situs gua prasejarah yang belum teridentifikasi.

Hasil dari riset team Balai Arkeologi Makassar dari tinggalan materi uji artefak di Wiwirano berbentuk sampel dengan memakai cara uji karbon 14 di laboratorium Arkeologi Miami University Amerika Serikat, mengaitkan jika daripada artefak di Wiwirano Konawe Utara berusia seputar 7000 tahun waktu lalu atau mungkin dengan evidensi ini karena itu peradaban Tolaki di Konawe sudah berjalan semenjak 5000 tahun Sebelum Masehi. Di gua-gua itu menaruh banyak artefak baik tengkorak manusia, alat kerja seperti beberapa alat memburu, benda pemujaan, guci, tempayan, gerabah, porselin baik itu bikinan Cina, Thailand, VOC, Hindia Belanda, batu pemujaan, ada banyak gambar atau adegan contohnya binatang, tapak tangan, gambar memburu, gambar sampan atau perahu, gambar manusia, gambar perahu atau sampan, patung, terakota, dan lain-lain. Dengan linguistik bahasa Tolaki adalah atau masuk dalam rumpun bahasa Austronesia, dengan Antropologi manusia Tolaki adalah Ras Mongoloid, yang hadir di tempat ini lewat jalan migrasi dari Asia Timur, masuk wilayah Sulawesi, sampai masuk daratan Sulawesi Tenggara.

Sebelum kerajaan Konawe ada, sudah ada banyak kerajaan kecil yakni: Padangguni berkedudukan di Abuki saat itu sebagai rajanya ialah mokole Bunduwula. Kerajaan Besulutu di Besulutu dengan rajanya bernama Mombeeti, serta kerajaan Wawolesea di Toreo dengan rajanya Wasangga. Berdasar oral tradition atau adat lisan warga Tolaki jauh sebelum kerajaan Konawe tercipta. Di wilayah ini sudah berdiri beberapa kerajaan kecil. Selanjutnya berintegrasi jadi satu konfederasi yakni kerajaan Konawe. Tanda-tanda terintegrasinya kerajaan kecil membuat satu konfederasi kerajaan berlangsung di sejumlah kerajaan di wilayah ini seperti dalam kerajaan Wolio tercipta adalah kombinasi dari beberapa kerajaan kecil seperti Kamaru, Tobe-Tobe, serta beberapa kerajaan kecil yang lain. Mengenai beberapa kerajaan kecil itu ialah seperti berikut:

1) Kerajaan Padangguni

Kerajaan Padangguni ini mulai tumbuh serta memperluas wilayahnya serta kerajaan ini eksis serta berkuasa sepanjang 12 generasi. Mengenai pimpinan atau Raja pertama Padangguni bernama Tolahianga dengan gelar Bundu Wula atau Tanggolowuta biasa diadakan Sangia Ndudu Ipadangguni.

2) Kerajaan Wawolesea

Kerajaan Wawolesea terdapat di tepi atau pesisir pantai timur jazirah Tenggara pulau Sulawesi di wilayah Lasolo. Menurut Burhanudin jika kerajaan Wawolesea adalah keturunan dari raja Kediri di Jawa. Kerajaan ini tidak berkembang serta maju dikarenakan berlangsungnya peperangan di antara Kerajaan Banggai di Sulawesi Tengah. Pemicu yang lain menurut keyakinan ialah terserang sumpah (molowu), karena Raja Wawolesea menikah dengan putrinya sendiri. Demikian terserang bencana itu karena itu masyarakat kerajaan Wawolesea ada yang membuat pelayaran ke arah ke wilayah lain serta mereka terdampar disemenanjung utara pulau Buton serta pulau Wawonii. Kerajaan Wawolesea ini di pimpin oleh seseorang raja yang bernama Rundu Langi, serta tidak memiliki pewaris kerajaan hingga kerajaan Wawolesea berintegrasi dengan kerajaan Konawe.

3) Kerajaan Besulutu.

Kerajaan Besulutu ini berjalan singkat ini dikarenakan oleh sebab Raja Besulutu yang bernama Mokole Mombeeno memiliki satu kesukaan berperang (momuho) dengan beberapa kerajaan di sekelilingnya. Hingga rakyatnya banyak menyusut, bahkan juga Rajanya terbunuh dalam peperangan. Hingga tidak ada penerus kerajaan itu.

4) Kerajaan Watu Mendonga

Kerajaan Watumendonga terdapat di hulu sungai Konawe Eha yang terdapat di Tonga Una serta kerajaan ini saat itu masih di bawah kerajaan Konawe. Pada periode seterusnya kerajaan Watumendonga ini masuk dengan kerajaan Mekongga. Saat itu wilayah Konawe sisi Utara seperti Kondeeha, Tawanga, Sanggona diserahkan kepada kerajaan Mekongga jadi warisan pada Wunggabae anak Buburanda Sabandara Latoma bernama Buburanda atas pernikahannya dengan Bokeo Teporambe anak dari Bokeo Lombo-Lombo. Jadi pimpinan paling akhir bernama Mokole Lapanggili.

Menurut beberapa penutur riwayat (kukua) raja-raja, sampai sekarang masih ada sisa-sisa peninggalan dari kerajaan-kerajaan kecil itu, baik peninggalan berupa arkeologi atau etnografi, contohnya puing-puing istana Raja Wawolesea di Toreo.

Menurut sumber riwayat kerajaan-kerajaan ini roboh dikarenakan berlangsungnya perang saudara di antara keduanya contohnya peperangan di antara Padangguni dengan Besulutu, atau terdapatnya ekspansi dari kerajaan lain di luar daerah Konawe seperti Bungku serta Ternate, yang mengakibatkan timbulnya power baru di wilayah ini yakni kerajaan Konawe yang disebut hasil konfederasi ke-3 kerajaan itu, dan perang di antara kerajaan Wawolesea serta dengan kerajaan Banggai. Pada jaman Hindia Belanda di Kolaka ada distrik Watumendonga yang berkedudukan di Tongauna.

Selanjutnya dari keturunan Mokole Padangguni berikut ada seseorang pemimpin yang berupaya untuk mengintegrasikankan semua kelompok-kelompok warga Tolaki yang telah tinggal serta berkembang, penduduknya dan menebar di semua daerah kerajaan Padangguni. Mengenai nama Mokole Padangguni itu ialah Toramandalangi yang bergelar Totongano Wonua. Seterusnya Totongano Wonua mengalihkan pusat kerajaannya dari Padangguni ke Unaaha, dikarenakan pada saat Totongano Wonua membuat perjalanan dalam rencana menjadikan satu negeri-negeri di sekelilingnya. Dia memperoleh wilayah Unaaha sudah menetap beberapa orang yang hadir dari Tulambantu. Mereka tinggalkan daerah sebab wabah penyakit yang epidemis hampir menghancurkan mereka. Serta pemimpin mereka bernama Puteo. Totongano Wonua ini temukan seseorang wanita yang ada di Lalobalongga yang bernama Nanggalamaha. Tak lama kemudian sesudah Toramandalangi mengalihkan pusat pemerintahannya di Inolobu Nggadue Unaaha. Mendadak munculah seseorang putri di Unaaha dengan 40 orang pengawalnya komplet dengan persenjataannya serta berpakaian sirat.

Menurut dua orang bersaudara Albert Cristian Kruyt, serta J. Kruyt, dan F. Treferrs jika hal sama berlangsung di Kerajaan Mekongga Kolaka dimana Wekoila serta Larumbalangi, yang dikisahkan mengenai dua orang bersaudara kandung wanita-pria. Jadi jadi kakak ialah Wekoila sedang Larumbalangi adalah adik. Mereka berikut yang turunkan raja-raja Konawe, serta Mekongga di Kolaka.

Lihat kehadiran putri itu cepatlah beredar berita di golongan beberapa orang Unaaha. Mereka selekasnya menyongsong putri itu serta oleh beberapa orang Unaaha menyebutkan putri itu dengan nama Sangia Ndudu berarti Dewa yang turun, sebab warga Tolaki tidak mengenalnya atau tahu siapa ayah serta ibu putri itu. Selanjutnya mereka menjumpai mokole Toramalangi, dengar laporan warga itu karena itu mokole Toramalangi hadir menjumpai Putri itu. Putri itu ditumbuhi penyakit kulit berbentuk panu Opano yang putih hingga oleh Totongano Wonua memberi nama Wekoila.

Wekoila ini ialah saudara dengan Larumbalangi dengan gelar Sangia Aha. Wekoila ini diberi nama Wetendriabeng, atau dalam bahasa Tolaki diketahui dengan nama Walandiate atau Watandiabe, sebab lidah orang Tolaki serta orang Bugis berbeda pengucapan, jika orang Tolaki benar-benar sulit untuk menyebutkan Wetendriabe hingga beralih Watandiyate.

agen sabung ayam Kata Wekoila mempunyai arti gadis cantik, terbagi dalam dua kata We ialah nama depan bangsawan wanita, koila berarti mengkilat. Selanjutnya Wekoila atau Watandiyate dikawinkan dengan putra Toramalangi Ndotonganowonua yang bernama Ramandalangi yang bergelar Langgai Moriana. Toramalangi ini di kitab sastra Lagaligo disebutkan Remangrilangi. Sesudah mereka kawin selanjutnya Wekoila dilantik (Pinorehu) oleh beberapa orang Tolaki jadi raja mereka. Dan Wekoila sesudah jadi raja karena itu kerajaan Padangguni ditukar jadi kerajaan Konawe. Serta berakhirlah kerajaan Padangguni serta nampaklah kerajaan Konawe, insiden ini berjalan pada awal era ke-10 Masehi. Pusat kerajaan Konawe sebelumnya berada di napo Olo-Oloho di tepi sungai Konaweeha, selanjutnya geser ke wilayah Unaaha di Inolobu Nggadue.

Boss Juga Bisa Kirim Via :

Telegram : +62812-2222-995
https://t.me/bolavita
Wechat : Bolavita
WA : +62812-2222-995
Line : cs_bolavita
Link Official Bolavita : http://159.89.197.59/

comments powered by Disqus