agen sabung ayam - judi sabung ayam - sabung ayam online

turnamen tajen bali online di bolavita 2019

Arti Sabung ayam di beberapa daerah di Indonesia miliki nama atau arti bahasa daerah yg berlainan, di Bali sendiri pekerjaan itu diketahui dengan

tajen, datang dari kata taji berarti pisau kecil yg dapat digunakan oleh ayam jago waktu diadu, hingga diantaranya kalah, baik itu mati maupun kalah

tidak pingin menantang.

Tajen atau sabung ayam tentu saja tdk terlepas dari kehidupan orang di Bali, lantaran sabung ayam itu terkait dengan beberapa ritual keagamaan

serta diketahui dengan Tabuh Rah. Pekerjaan atau prosesi Tabuh rah itu seringkali diselenggarakan waktu ada upacara keagamaan pada umat

Hindu seperti dalam upacara Bhuta Yadnya seperti mecaru serta tawur yg memiliki fungsi jadi penyamleh atau perang sata. Tetesan darah ayam

kurban pada saat beberapa upacara khusus memang dibutuhkan dalam lengkapi prosesi upacara keagamaan itu, supaya beberapa bhuta masa

atau efek negatif tdk mengganggu pekerjaan yadnya seterusnya. Tentu saja dalam prosesi Tabuh Rah itu tdk ada unsur judi.

Darah ayam aduan yg menetes ke tanah waktu upacara bhuta yadnya itu, adalah perihal utama supaya prosesi itu dimaksud prima, dan ayam yg

diadu waktu serangkaian tabuh rah berjalan adalah acara sakral, diakui alami penambahan reinkarnasi pada kehidupan seterusnya. Beberapa

upacara Bhuta Yadnya yg ditambahkan dengan prosesi Tabuh Rah seperti upacara Tawur Agung, Tawur Panca Wali Krama, Eka Dasa Rudra, Caru

Rsi Gana, Panca Kelud, Caru Balik Sumpah serta Tawur Labuh Gentuh. Serta Tabuh Rah itu cuma dilaksanakan maksimum 3 tahap (telung saet),

tdk bisa lebih dari itu seperti waktu tajen.

Pekerjaan Tajen Atau Sabung Ayam Di Bali
Dapat didapati kalaupun sabung ayam yg dilaksanakan dalam serangkaian untuk keperluan upacara agama diketahui dengan tabuh rah, akan

tetapi sabung ayam yg ditujukan untuk menghibur serta untuk kebutuhan bersenang-senang untuk penjudi diketahui dengan Tajen. Beberapa

agama ikut melarang pekerjaan judi itu, perjudian tdk dibenarkannya dalam agama Hindu, ditambah lagi libatkan hewan-hewan yg tdk berdosa

dapat menaikkan dosa seseorang manusia yg lakukan tindakan itu. Dosa yg tdk dapat dimaafkan, terlebih dengan berniat mengadu serta menyakiti

lantaran kemauan bersenang-senang.

Dikehidupan orang Bali saat ini, sejalan dengan kehidupan sosial pekerjaan judi tajen atau sabung ayam ini mendapatkan support dari beragam

kelompok orang, kadang prosesi tabuh rah itu jadikan tameng untuk penyelenggaraan Tajen, berniat diperlukan oleh beberapa penjudi (bebotoh)

untuk melegalkan pekerjaan judi mereka supaya dikit rasa aman lantaran pekerjaan tajen atau sabung ayam itu dilaksanakan dalam serangkaian

upacara agama, contohnya dalam serangkaian pekerjaan upacara rutinitas seperti upacara tiga bulanan, odalan di pura.

Bila tabuh rah dimanipulasi berubah menjadi tajen serta bersisihan dengan area suci pura, karena itu beberapa bebotoh ikut disasarkan untuk

memakai baju rutinitas, hingga bila ada aparat yg sadari pekerjaan sabung ayam itu dapat terasa malas untuk lakukan penangkapan. Acara tajen

atau sabung ayam kadang berniat diselenggarakan untuk penggalangan dana. Mereka yg ada untuk nikmati hiburan itu serta lakukan taruhan

diketahui dengan nama bebotoh. Beberapa bebotoh rata-rata ada dari semua pelosok Bali, terkait dari besar kecilnya arena dari sabung ayam itu.

Kenyatannya Tabuh Rah lantas alami pergeseran arti, oleh beberapa bebotoh jadikan jadi arena judi tajen atau sabung ayam ini. Memang tajen tdk

dapat dipisahkan dari kehidupan orang Bali, mereka beberapa bebotoh seakan miliki pembenar, kalaupun judi waktu sabung ayam atau tajen yaitu

suatu budaya serta jadi arena atraksi sosial antar penduduk, begitupun rotasi uang judi waktu tajen cuma lokasi lokal Bali saja, mereka ikut miliki

argumen dapat menghidupi orang seputarnya seperti pungutan parkir, ticket masuk, pedagang, beberapa pekerja dalam ajang sabung ayam serta

dana yg diterima dapat untuk perbaikan layanan umum. Walaupun sebenarnya mereka memahami benar judi dilarang serta tdk ada orang kaya

lantaran judi, malah terbalik kehidupan ekonominya selalu mengalami penurunan bila menjalani pekerjaan judi sabung ayam serta sering jatuh

tersuruk serta selanjutnya ambil perbuatan yg tdk objektif.

Tajen di Bali seakan-akan berubah menjadi suatu tradisi atau budaya yg diwarisi turun temurun, walaupun keberadannya ilegal, walaupun udah

ada larangan dari pemerintah serta undang-undang yg mengontrol, kalau judi itu dilarang, tapi pekerjaan tajen atau sabung ayam ini terus berjalan,

walaupun mereka tdk terbuka maupun bersembunyi, tapi untuk orang umum tempat judi sabung ayam itu cukuplah gampang untuk diketemukan,

bahkan juga di pusat-pusat kota seperti Denpasar pekerjaan judi atau sabung ayam itu sering diselenggarakan.

Tidak tahu bagaimana mode kerjanya, toh hingga sekarang tajen itu tetap cukuplah gampang untuk diketemukan serta beberapa penyelanggara

judi tajen ini nampaknya cukuplah bebas untuk menyelenggarakan arena sabung ayam. Pergeseran arti tabuh rah berubah menjadi tajen serta

arena taruhan atau judi sangatlah seringkali berlangsung, walaupun sebenarnya serangkaian realisasi tabuh rah tidak selamanya diidentikkan

dengan beradu ayam jago hingga meneteskan darah ke tanah, akan tetapi dapat ditukar dengan penyambleh. Ayam yg dimanfaatkan jadi

penyambleh dipotong lehernya atau menikamnya dengan keris supaya meneteskan darah ke tanah, hingga tabuh rah itu tdk disalahartikan jadi

arena judi yg dilegalkan.

Bila memang tabuh rah berbentuk sabung ayam dapat dibiarkan serta ditukar dengan penyambleh serta miliki guna ritual yg sama, karena itu di

pura nampaknya prosesi tabuh rah melalui langkah sabung ayam dengan maksud untuk selera serta kesenangan pribadi serta mesti

mengorbankan hewan tidak berdosa yang adalah ciptaan Tuhan dapat ditiadakan, karena itu ini dapat berubah menjadi renungan kita bersama…

Namun begitu banyak pro serta kontra dengan kehadiran tajen itu.

comments powered by Disqus